musik klasik


Terminologi musik klasik masih sering dimengerti sebagai musik orkestra barat. Sementara pengunaan kata “klasik” dalam musikologi barat dimaksudkan sebagai klasifikasi periodisasi sejarah musik. Pada masyarakat kita, karya Beethoven juga sering dikatakan musik klasik yang pada kenyataannya, ia berada dalam periode peralihan “klasik-romantik” yaitu, abad ke-18. Johan Sebastian Bach seorang komposer periode Barok abad ke-16 juga disebut klasik. Karena ke-salah kaprah-an ini maka mungkin perlu kita kenal lebih lanjut apa arti dan latar belakang musik klasik.

Klasik dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti kuno, suatu bentuk karya seni yang becita rasa seni tinggi serta mengandung kaidah-kaidah filsafat. Kebanyakan masyarakat belum mengenal sejarah musik dunia secara benar. Bahkan karya-karya musisi indonesia pada masa tahun 1960 – 1980 sering disebut dengan musik klasik. Menurut kamus musik karya Pono Banoe, Klasik adalah keadaan atau kondisi yang mutunya patut dicontoh dan terikat pada tradisi. Zaman lampau periode sebelum zaman romantik. Periode zaman sebelum zaman sekarang. Dan musik klasik; masih menurut Pono Banoe, adalah musik lama; musik zaman lampau yang masih tetap bertahan di tengah tantangan berbagai musik yang sedang populer. Gaya musik diperbandingkan dengan zaman berikutnya, yaitu zaman romantik. (Weber, Schumann, Mendelssohn.)

Menurut Friedrich Blume, musik klasik adalah “karya seni musik, yang sempat mengintikan daya ekspresi dan bentuk bersejarah sedemikian hingga terciptalah suatu ekspresi yang meyakinkan dan dapat bertahan terus.” Dalam hal ini Franz Schubert sering disebut pencipta klasik dari Lied Jerman, dan inipun benar, meskipun Schubert biasanya digolongkan sebagai komponis jaman romantik. Maksudnya ialah bahwa Lied Jerman mencapai puncak perkembangan dalam komposisi Franz Schubert. Begitu pula tari klasik jawa sama sekali tidak berkaitan dengan periode klasik eropa (1750-1820).

Masa Klasik dalam musik secara khusus berpusat pada tiga komponis penting, yaitu Josef Haydn (1732-1809), Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) dan Ludwig Van Beethoven (1770-1827). Masa 1760-1820 ditandai dengan banyak peristiwa politik yang mengubah Eropa dan Benua Amerika. Di antaranya, permulaan Revolusi Prancis tanggal 14 Juli 1789 (1789-1794), sering kali dianggap sebagai sejarah dunia modern. Melaluinya, kuasa feodal di Prancis menjadi hancur dan ikatan-ikatan terakhir dari nilai-nilai Abad Pertengahan terputus. Walaupun revolusi ini dimulai dengan suatu idealisme dan optimisme yang dipengaruhi oleh ide-ide Aufklärung / Pencerahan, tahun-tahun selanjutnya tokoh-tokoh revolusi seperti Danton dan Robespierre menjadi terobsesi dengan kekuasaan sehingga keadaan Prancis terarah pada totaliterisme. Raja Lois XVI dan istrinya dihukum mati bersama ribuan orang. Pada akhir masa ini, Kerajaan Inggris menjadi negara terkuat didunia, walaupun telah kehilangan Amerika Serikat dalam perang kemerdekaan Amerika yang berlangsung dari tahun 1776-1782. Revolusi-revolusi lain di Amerika Latin menghasilkan kemerdekaan dari Spanyol dan Portugal untuk Meksiko, Paraguay, Chili, Peru dan Brazil selama tahun 1811-1822.

Kemajuan-kemajuan dalam ilmu dan teknologi yang terdapat selama paroan kedua abad ke-18 menghasilkan sejenis revolusi lain, yaitu Revolusi Industri. Perkembangan ini terasa lebih dulu di Inggris, khususnya melalui penggunaan mesin uap dalam pabrik selama masa 1780-an. Dalam ilmu kedokteran, vaksin-vaksin ditemukan. Dalam kesusastraan, novel menjadi tulisan yang penting. Penyair-penyair penting yang muncul termasuk Goethe (1749-1832) dan Schiller dari Jerman.

Istilah “klasik” mempunyai beberapa konotasi. Klasik dipakai dalam hubungannya dengan kebudayaan dan kesenian Yunani dan Roma Kuno. Kata “klasik” dipakai lagi dalam paroan kedua abad ke-18, karena nilai-nilai klasik dari Yunani Kuno seperti keseimbangan, pengendalian, dan kejelasan dalam bentuk muncul kembali dalam kesusastraan dan kesenian. Kebangkitan kembali gaya arsitektur Yunani Kuno terlihat dalam banyak gedung pada abad ke-18. Estetika dan gaya klasik juga terlihat dalam seni lukis (misalnya lukisan-lukisan Jaques-Louis David) dan seni patung.

Karl Edmund Prier berpendapat bahwa salah apabila kita berpikir apa yang mendahului puncak perkembangan seni hanya dipandang sebagai hasil sementara, kurang sempurna; dan apa yang menyusul dinilai sebagai gejala pendangkalan / klasisisme saja. Pandangan ini salah karena sejarah kini tidak dilihat lagi sebagai perkembangan terus menerus terdiri dari unsur-unsur yang berkaitan, saling melengkapi dan mengimbangi.

Musik pada jaman klasik berusaha untuk menciptakan suatu ‘bahasa universal’ yang dapat dimengerti tidak hanya secara lokal tetapi secara internasional. Maka musik klasik dimengerti oleh masyarakat umum, bukan hanya bagi sekelompok elite saja. Bahkan akhir-akhir ini banyak ilmuwan membuat penelitian dengan musik klasik sebagai sarana dalam terapi musik. Beberapa ilmuwan dari universitas di jerman dan amerika menemukan bahwa musik klasik dapat mempengaruhi perkembangan otak janin. Akan tetapi hal ini masih menjadi bahan perdebatan yang cukup menarik dan panjang bagi para terapis musik. Ada yang menyatakan bahwa musik klasik dapat meningkatkan keseimbangan perkembangan otak kanan dan kiri bagi janin yang sedang tumbuh dalam rahim ibunya. Diibaratkan bahwa rahim ibu sebagai ruang kelas dan air ketuban sebagai pengantar gelombang getar dari musik klasik yang diputar dengan cara menempelkan loud speaker ke perut ibunya. Penelitian terhadap beberapa siswa yang sedang belajar dalam rangka menghadapi ujian, diterapi dengan mendengarkan musik klasik membuktikan bahwa ada peningkatan konsentrasi belajar.

Kepercayaan bahwa musik mempunyai kelengkapan dan kekuatan yang dapat mempertajam pikiran serta mentransformasi jiwa sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu. Kepercayaan itu sudah ada dari beberapa ide berdasarkan ajaran konfusius di Cina. Di barat Phytagoras dan pengikutnya memainkan peran sentral terhadap ide plato. Plato beranggapan bahwa musik tidak semata menggambarkan kualitas dan kondisi emosi tetapi mewujudkannya. Pengaruhnya tidak hanya pada penyaji, tetapi juga bagi pendengarnya.

Musik dalam fungsinya bisa bertindak sebagai banyak hal. Diantaranya musik sebagai terapi, musik sebagai sarana pendidikan, musik sebagai sarana pemujaan terhadap Tuhan, musik sebagai industri, dll. Pada akhirnya dengan sedemikian banyaknya fungsi dan jenis-jenis aliran musik dunia, kembali kepada minat para penikmatnya. Segala fungsi yang ditawarkan akan memunculkan respon yang positif apabila memanfaatkan jenis aliran musik yang digemarinya. Sebaliknya respon negatif muncul apabila memaksakan untuk mendengar jenis musik yang tidak disukai.